seseorang datang padaku kerena cinta
seseorang pergi dariku untuk menjemput cinta
yang lain singgah karena berpikir tentang cinta
yang lainnya lagi mohon diri untuk menemukan cinta
lalu bagaimana denganku???
dan bagaimana dengan Anda???
seseorang datang padaku kerena cinta
seseorang pergi dariku untuk menjemput cinta
yang lain singgah karena berpikir tentang cinta
yang lainnya lagi mohon diri untuk menemukan cinta
lalu bagaimana denganku???
dan bagaimana dengan Anda???
seorang gadis berjalan dalam kesunyiannya. kesunyian miliknya sendiri karena itu memang hanya ada di hatinya. bersaat saat lalu seorang teman menemaninya dan membawanya dalam pesona keramaian yang menggoda, tapi kemudian memisahkan diri dan membiarkan gadis itu berjalan sendiri. dan teman teman yang lain datang bergantian menghampiri sambil menawarkan pesona dan rasa yang berbeda. mereka menyapasatu demi satu untuk kemudian meninggalkanya lagi. meninggalkannya saat gadis itu butuh seseorang untuk menjalani hari bersama, sesorang untuk menyandarkan kepala saat lelah, seseorang yang bersedia menopangnya ketika dia jatuh.
Sejenak gadis itu berhenti melangkah, menengok ke belakang dan menghela nafas. sebuah suara dalam sel sel otaknya memaksanya melangkah sekali lagi dan menatap ke depan. dan gadis itu tersenyum meski tak ada apa apa di sana kecuali sebuah pintu ke dunia yang tak dikenalnya. dan langkah itu menuju pintu itu. ketika pintu terbuka seseorang berdiri dengan tangan terbuka seolah ingin memeluknya. seseorang yang menyambutnya dengan cinta.
“Selamat datang kekasih ku, izinkan aku menjaga hatimu.”
dan gadis itu tersenyum sekali lagi sembari bersandar pada orang itu dan membiarkannya menjaga hati sang gadis dengan cinta dan ketulusannya.
Dia : Kamu adalah cewek yang paling sombong yang pernah ku kenal…..
Aku : Oh ya???
Dia : Aku gak heran Ry ninggalin kamu dua tahun yang lalu….
Aku : (tersenyum) tapi kenapa kamu bilang aku sombong???? (lumayan bingung juga nih)
Dia : karena kamu gak pernah mau mengakui kl kamu butuh org lain. kamu gak pernah ma menerima org org yang datang ma kamu. kamu selalu berpikir bisa melakukan semuanya sendiri padahal kenyataanya kamu juga butuh bantuan.
Aku : Jadi itu pendapat kamu tentang aku?
Dia : ( terus menatapku) aku membenci kamu yang seperti itu.
Aku : kalau begitu jangan menjadi orang seperti aku!
Aku : Tidak ada orang yang mau sendiri, tapi ketika orang orang di sekitar aku memang tidak bisa ada untuk ku saat aku butuh, aku toh tak bisa menyalahkan mereka. keberadaan mereka untukku atau orang lain bukanlah suatu kewajiban (dan aku membiarkan orang itu sendiri dalam permenungannya sendiri seperti juga aku yang memilih untuk berjalan sendiri)
Kemarin ke gereja dengan niatan mo ikut misa se khusuk mungkin karena minggu sebelumnya bolos dari misa. selesai misa rencananya mo pulang sampai melihat yang pernah teramat kukenal lebih dari dua tahun yang lalu. sebelum sempat menegur dia sudah tersenyum duluan.
“Hai, pa kabar?” sapaan dari suara yang pernah aku rindukan sekian bulan yang lalu (sampai gak inget kapan terakhir aku kangen ma dia)
“seperti yang kamu lihat, aku baik baik saja” jawabku tanpa ada niat untuk bertanya balik
“sendirian?” tanyanya yang hanya kujawab dengan anggukan saja
“boleh aku antar pulang?” tanya nya
“gak usah ntar ngerepotin” tolakku
“gak papa, lagian dah malem” dan aku hanya angkat bahu dan mengikutinya ke parkiran motor karena malas berdebat
“kamu gak berubah” katanya setelah tiba di rumahku yang ternyata kosong karena sisa penghuninya keluar kota dengan meninggalkan pesan
“oh ya???” tanyaku basa basi yang terasa basi buatku sendiri
dia mengangkat bahu dan berkata “yach, tetap aja jadi miss independen”
“apa salahnya dengan itu???” tanyaku polos
“gak ada, hanya saja cowok gak suka sama cewek yang terlalu independen”
“begitukah???” tanyaku balik dan mencoba menatapnya “kamu juga tidak?”
“itu jugakah yang membuat kamu pergi???” tambahku dalam hati tanpa bermaksud membuka bekas luka lama
dia terdiam dengan mata yang menatap aneh ke dalam mataku
kami terdiam lama dan hanya saling menatap jengah sebelum akhirnya terlibat pembicaraan yang gak jelas.
jam dinding ruang tamu rumahku menunjuk pukul setengah sembilan malam ketika dia pamit.
“Ry!” panggil kusaat dia mencapai pintu “percayalah aku sudah berubah banyak, mungkin lebih banyak dari yang bisa kamu bayangkan”
dan jujur aku senang saat melihat expresi terkejut di matanya, mata yang aku tahu takkan pernah bisa berbohong pada saat apapun
“aku yang dulu pasti tidak akan mau mengnalmu lagi dalam sisa hidupku” bisikku dalam hatiku sendiri
……..
dua pasang mata bertatap dalam dua masa berbeda
dua pasang mata terpaku pada rasa yang berbeda
entah rasamu………
tapi aku lelah……………….
lelah membencimu dan merindumu di saat yang sama
dan aku ingin berubah dengan melepasmu
……….