hampir sebulan aku ngajar di SMP itu. dan rasanya ada sedikit rasa tak nyaman ketika hampir setiap hari selalu ada saja siswa yg harus menjalani hukumannya. mulai dari terlambat masuk sekolah, kata2 kotor yang meluncur secara tak sadar, tidak mengerjakan PR, sampai pada siswa terlambat bayar sekolah. rasanya gak nyaman aja melihat mereka berdiri di lapangan, atau melihat mereka melakukan sesuatu sebagai hukumanya. secara pribadi aku melihat hukuman itu tidak menyelesaikan masalah sedikitpun.
kalau dipikir pikir aku juga bukan murid yg menjalani masa belajarnya dengan embel2 alim dan baik2 saja. aku juga pernah cabut, bolos, melanggar satu or dua peraturan, tapi menerima hukuman fisik bisa dihitung dengan jari tangan. di banding dengan SMP tempatku ngajr sekarang, SMP ku bisa dibilang lebih keras. ada peraturan2 tegas yang memiliki sanksi yang tidak bisa di tawar, tp pemberian hukuman sejenis di jemur di lapangan, lari keliling lapangan, ancaman2, dsb bisa dibilang sangat jarang dilakukan. teguran sih iya, menghadap guru bp iya, tp tidak ada hukuman fisik.
kl dipikir2 lagi, aku juga bukan guru yg tidak memberikan hukuman. ada beberapa murid yg sudah menikmati proses di hukum itu. tp maaf, bukan hukuman fisik.
hukuman memang memberikan tekanan pada siswa atau orang yang melakukan kesalahan. tapi maaf, itu tidak selalu menjadi penyelesaian masalah.
setelah sekian lama berkuta dengan diktat kuliah dan murid2 les, dua minggu yang lalu akhirnya aku ngajar juga. and its damn tired.
gak nyangka juga bisa ngajar di SMP itu yang anaknya sumpah bandel banget. melelahkan secara fisik maupun psikologis. bayangkan aja, belum ada satu minggu ngajar sudah sukses menghukum lebih dari 20 anak dr yang gak ngerjain pr, gak bawa buku pelajaran, mpe ngluarin kata2 krama inggil tidak senonoh. belum lagi penguasaan kelas yg masih kacau, secara aku ternyata pengidap anthropopobhia alias takut ma crowd. beberapa kali aku harus mendiamkan mereka sampai mereka diam dengan sendirinya, beberapa kali juga harus rela teriak2 untuk menerangkan ditengah dengungan suara mereka yang mirip tawon diusik sarangnya. belum lagi kondisi perpus yang tidak terlalu bagus alias standard banget.
bagiku sendiri akhirnya ini menjadi terapi yang lumayan. pertama terapi untuk phobiaku. bagaimanapun yang namanya phobia itu gak normal, dan kalau memang gak bisa sembuh ya minimal reda lah. kedua terapi untuk emosiku. jujur saja aku bukan orang yang sesabar kelihatannya, i’m totally an emotional and moody person. dan ini terapi untuk menghadapi dan berkomunikasi dengan banyak orang tanpa melibatkan emosi dan mengendalikan sifat moody yg kadang membuatku sulit juga.
saat ini aku lebih berusaha dan berdoa (karena toh cuma itu yang aku bisa) mencoba memberikan yang terbaik secara profesional.
wish God bless me ajah