today’s black in news
sekali lagi pemerintah main2 dengan dunia pendidikan Indonesia. beberapa waktu lalu pemerintah mendorong guru2 negeri untuk meraih gelar S1 sebagai perlompatan golongan mereka dan menambah kesejahteraan mereka. para guru yangsudah S1 dan lolos sertifikasi mendapatkan tunjangan profesi yang besarnya 1 kali gaji pokok mereka. maka para guru yang rata2 usianya 40 keatas itu berlomba2 meraih gelar S1, mengorbankan keluarga yang biasanya bisa di urus setelah mereka selesai mengajar, mengorbankan sosialisasi karena sudah terlalu capek ketika pulang k rumah, mengorbakan kesehatan, dan yang lebih penting mengorbankan sejenak anak didiknya ketika mereka harus ujian. pengorbanan itu terbayarkan ketika pada tiga bulan pertama mereka menerima transfer tunjangan profesi di rekening masing2. dan sekarang tunjangan tersebut akan di hentikan bahkan para guru yang sudah mendapatkanya diminta mengembalikan dana tersebut secara bertahap yg akan di potong dari gaji mereka setiap bulannya.
well, saya bukan guru yang mengejar sertifikasi, tapi melihat teman2 seprofesi saya begitu antusias dengan program ini dan begit puas menerima hasilnya, rasanya kok ya g tega melihat mereka harus kehilangan itu. mungkin beberapa orang berpikir kalau toh gaji guru sudah cukup besar berikut dengan tunjangan2nya. tp cobalah tilik kembali, butuh berapa tahun bagi seorang guru untuk mencapai itu semua. ibuku butuh waktu 25 tahun untuk bisa menghasilkan 2jt per bulan itu sudah termasuk dengan tunjangan2 tetek bengek. di tengah harga kebutuhan yg makin mahal dan pendidikan yang gak murah untuk anak2nya, adakah yanmg bisa bilang kalau uang sebesar itu cukup untuk sebuah keluarga jaman sekarang ini? dengan ikut sertifikasi mereka mendapatkan gaji hampir 4jt per orang. dan bisa di bilang itu lah saat mereka bisa sedikit bernafas. dan kalau masih ada yg bilang kalau guru bisa memberikan pelajaran tambahan pada siswanya (terutama guru kelas VI SD) saya akan balik bertanya, maukah Anda mengajar tambahan jam pelajaran untuk satu kelas berisi 40 anak dengan bayaran tambahan tak lebih dr 400rb yang akhirnya habis untuk fc soal2 latihan ujian untuk siswa? itu pun kalau anaknya mampu bayar semua. bagaimana kalau si anak tidak mampu bayar dan malah melaporkan penarikan biaya tersebut ke dinas terkait yang bisa menyebabkan si guru stuck golongan. so, wajar kok kalau para guru berebut lolos sertifikasi dengan berbagai cara, dan sudah sewajarnya pemerintah memperhatikan mereka dengan tunjangan profesi untuk usaha dan kerja keras mereka. kalau memang pemerintah tidak berniat memberikan tunjangan tersebut, tolong jangan berikan sejak awal. bahakan jangan mengiming2i para guru dengan cara seperti ini.




wacana apa pula ini? dapat info darimana? jangan mancing2 lho.lha wong udah ada perpu ny a koq.ndadak ditarik.aya aya wae.ati2 neng.posting bs jadi bumerang.
Comment by danindra — March 30, 2009 @ 12:20 pm
sabar ses sabar.. ngasih kiranti ke sesy
Comment by wongsableng — March 30, 2009 @ 12:30 pm
weleh, parah banget kui..
*geleng2*
eh, usaha yg sudah kita lakukan kalo ikhlas ga akan sia2 koq…
:D
Comment by johanis — March 30, 2009 @ 2:52 pm
guru ki nda setara pns?
Comment by Satrio — April 1, 2009 @ 5:45 am
@danindra: wacananya dah muncul di beberapa media cetak. terakhir aku baca komentarnya sudharto di kompas online. kl perpunya sudah turun dan cukup kuat ya puji Tuhan kan.
@satria: ini kan kasusnya guru pns yg ikut sertifikasi, guru swasta g kena dampaknya. bahkan guru fresh graduate s1 jg g terkena.
Comment by sesy — April 2, 2009 @ 1:06 pm
Wahh aku jadi kangen sama Bapakku!!Dulu waktu bapakku nyambi ngajar…ahh sudah lah..aku kangen!!
Comment by -Lie- — April 24, 2009 @ 8:36 am